Hukum

Untuk Kesekian Kalinya, Wartawan Alami Aksi Anarki

Prabumulih – Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pola kerja wartawan pada saat menjalankan tugas jurnalistiknya, acapkali memicu kesalahan persepsi dari pihak nara sumber saat di mintai klarifikasi sebagai salah satu syarat mutlak dalam penulisan suatu pemberitaan. Bahkan parahnya lagi sang jurnalis harus menanggung resiko aksi kekerasan brutal serta beragam bentuk penganiayaan.

Seperti halnya dialami Arto Hadi (40) warga kecamatan Lubai , wartawan Surat Kabar Sorot News yang diduga dipukuli sampai terkapar tak sadarkan diri oleh serombongan pria yang belum dikenalnya, saat sang jurnalis ini bermaksud menemui salah seorang nara sumber untuk diklarifikasi dan dikonfirmasinya di Sebuah Rumah Billiar dan Karoke di bilangan Muara Dua Kota Prabumulih pada Kamis (07/01/15) sore sekitar pukul 16.00 wib.

Berikut penuturan Arto menceritakan kronologis kejadian bagaimana sampai dirinya mengalami nasib naas tersebut. Diterangkan Arto, sebelum kejadian penganiayaan itu dirinya tengah menggali informasi mengenai isu peredaran togel di wilayah Prabumulih. Bermodal nomor ponsel serta nama seorang Pria yang disebut bernama Yon (disingkat, red), Arto mulai mencoba mendalami kebenaran isu dan informasi yang berhasil didapatkannya tersebut. Layaknya seorang wartawan Arto lantas menghubungi nomor tersebut.

Konfirmasi via ponsel itu kata Harto diawalinya dengan menayakan nama sang pemilik ponsel, dan posisi yang bersangkutan serta kebenaran isu yang didapatkannya dan tak lupa pula memperkenalkan diri dan identitasnya nya . Pria yang ditelpon Harto itu menjawab bahwa dia bukan bernama Yon dan dia mengaku bahwa dirinya bukanlah orang yang dimaksud sementara keberadaannya saat itu sedang berada di Palembang. Arto pun maklum dan menjelaskan bahwa dirinya hanya sekedar klarifikasi, bukan nya menuding. Kemudian lanjut harto nada diseberang telpon, terdengar meninggi dengan menanyakan siapa sebenarnya latar belakang Arto. Arto pun kembali memperkenalkan diri, setelah itu obrolan terputus ponselpun dimatikan. Harto menaggapinya dengan bijak dan mengutarakan bahwa dia tidak mempersalahkan jika dia salah menghubungi orang

“Kau siapo, ku jawab aku Harto, dari mano, kujawab lagi aku ni wartawan, terus dio nanyo lagi ado masalah apo, kujelaskan yo dak ado masalah, aku Cuma betanyo bukan nuduh sudah kalu cak itu ceritonyo” ucap Arto menirukan perbincangan nya saat itu.

Nah saat Arto mulai melanjutkan perjalanannya mengendarai sepeda motornya. Beberapa menit berselang ponsel Harto berbunyi, namun barulah setelah beberapa kali panggilan barulah ia menyadari bahwa ada yang menghubungi ponselnya. Dan ketika diangkat ternyata nomor yang tampil adalah orang barusan ditelponnya, dan orang itu dengan nada sedikit berang kembali mengungkit apa motif Arto menelpon nya. “Bukan ini ni siapo, lantas kujawab yo disitu siapo, trus dio ngomong bukan jadi cakmano, dimano posisi mau kemano, dimano kito biso ketemu” kata Arto mengulang percakapannya saat ditelpon.

Namun yang mengherankan kata Arto orang yang disebut bernama Yon ini malah mengajak nya bertemu padahal sebelumnya dia mengaku tengah berada diluar Kota. Namun demi meluruskan permasalahan Arto pun sepakat untuk bertemu, dan dia memutuskan posisi bertemu di wilayah simpang empat gunung ibul Prabumulih Timur. Tetapi belum juga Arto sampai kesana ponsel Arto kembali berbunyi, Pria itu kembali menelpon dan menanyakan posisi dirinya, dan memutuskan lokasi lain tempat pertemuan yaitu di sebuah rumah Karoke.

Karena tak menduga bakal mengalami nasib sial, Arto pun menyetujui nya dan langsung menuju lokasi tempat pertemuan yang ditentukan oleh pria yang menelponnya tadi. Sesampainya ditempat itu Arto melihat beberapa orang pria disana dan ponsel kembali berbunyi seorang Pria tampak tengah menelpon dan Arto pun menyadari bahwa Pri inilah yang menelponnya begitupun sebaliknya. Pria itu lantas melambaikan tangan sembari mendekat kearah Arto, kemudian dia berkata

“kau nilah Arto, apo maksud kau” ucap Pria itu. Kemudian orang itu kata Arto tanpa basa basi lantas menghantamkan pukulan nya ke arah kepala nya. Arto belum sempat menjelaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menuduh, namun kata-kata nya tak digubris malah dirinya dikeroyok beberapa Pria yang berada disana. Dihujani bertubi-tubi pukulan dan cekikan Arto pun jatuh terjerembab, dan sempat beberapa saat tak sadarkan diri.

Akhirnya setelah sadar Arto telah dibonceng oleh orang yang tak dikenalnya untuk dibawa berobat ke RSUD Kota Prabumulih. Dan setelah kondisinya mulai membaik saat malam harinya Arto di bawa pulang oleh keluarganya. Kemudian dijelaskan Arto sekitar pukul 22.00 WIB dengan didampingi keluarganya dia memutuskan untuk melaporkan hal tersebut ke Polres Prabumulih. “Setelah aku balek kerumah sudah berobat, terus sekitar jam 10 malam kami melapor ke Polres, sesuai prosedur” jelas Arto

Sementara itu Ketua PWI Prabumulih, Abdulah Doni saat dimintai komentarnya menyatakan bahwa dirinya nya sangat prihatin kejadian yang dialami oleh Arto. “atas nama organisasi, dan Sebagai pribadi sesama rekan seprofesi saya sangat menyayangkan segala bentuk aksi kekerasan terhadap wartawan, semestinya hal demikian tak perlu dilakukan oleh orang tersebut, apalagi Arto hanya menjalankan tugas jurnalistiknya” komentar Doni saat dimintai tanggapannya Minggu (10/01/15). (red)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Populer

To Top